Viral Pengakuan 5 Tentara Rusia yang Ditangkap Ukraina: Tidak Ingin Perang, Ingin Segera Pulang

Lima tentara Rusia ditangkap di Ukraina, mereka membuat sebuat pengakuan mengejutkan.

Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Dalam sebuah video viral, terlihat para tentara itu mengklaim telah ditipu oleh komandan mereka.

Tentara Rusia tersebut mengatakan sebenarnya tidak ingin perang dan berharap segera pulang ke rumah.

Newsweek melaporkan Senin (28/2/2022), sebuah video yang merekam lima tentara Rusia yang ditangkap di Kharkiv oleh pasukan Ukraina viral di media sosial.

Video itu diposting pada hari Minggu dan sejauh ini telah ditonton lebih dari 700.000 kali.

xxx

Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Orang yang merekam video mewawancarai masing-masing tentara yang terikat tangan dan mempertanyakan mengapa mereka menyerang Ukraina.

Para prajurit mengatakan bahwa mereka hanya ingin kembali ke rumah, tidak ingin menyerang Ukraina sejak awal dan mengalami demoralisasi.

Setelah ditanya dari unit militer apa mereka berasal, tentara Rusia masing-masing menjawab dengan nomor unit militer mereka.

Ketika ditanya apa tujuan mereka datang ke Ukraina, para tentara memberikan tanggapan yang berbeda-beda sambil mengatakan bahwa mereka telah dibohongi dan ditipu.

“Kami datang ke sini untuk pelatihan. Kami ditipu sedikit, jadi begitulah saya di sini,” kata tentara Rusia pertama.

Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

“Untuk pelatihan. Saya dikirim ke sini oleh komandan,” kata prajurit Rusia kedua.

Prajurit ketiga berkata “Kami diberitahu bahwa kami dikirim untuk pelatihan pada awalnya, tetapi kami ditempatkan di garis depan. Orang-orang kehilangan semangat dan tidak ingin pergi, tetapi mereka mengatakan Anda akan menjadi musuh publik. Kami tidak ingin perang ini. Kami hanya ingin pulang dan kami menginginkan perdamaian.”

Prajurit keempat mengatakan, komandannya memberi tahu mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Kami tidak tahu apa-apa. Kami tertipu dan ditinggalkan.”

Ibu Tentara Rusia Menangis Anaknya Jadi Tawanan

Hari pertama invasi militer Rusia  di Ukraina, Kamis (24/2/2022), muncul foto dua pria berseragam tentara Rusia.

Keduanya digambarkan sebagai tawanan perang dipublikasikan di halaman Facebook Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Valeriy Zaluzny.

Baru pada saat itulah Natalya Deineka menyadari bahwa putranya, Rafik Rakhmankulov, terlibat perang.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC Rusia, wanita berusia 40 tahun itu mengatakan bahwa saudara perempuannya pertama kali memberi tahu dia tentang foto itu.

Natalia masih belum menerima konfirmasi tentang status Rafik.

“Saya telah menghubungi beberapa perwira dari unit militernya dan menceritakan apa yang terjadi,” kata Natalya.

“Dia bilang kontra intelijen akan memeriksa apakah Rafik ditahan atau tidak, tetapi belum ada konfirmasi.”

Tetapi otoritas militer tidak menyangkal kepadanya bahwa pemuda 19 tahun itu, yang belum genap setahun berdinas sebagai tentara, telah dikirim ke front Ukraina untuk berperang.

‘Dia tidak tahu mereka akan dibawa ke sana’

Natalia mengklaim bahwa putranya yang merupakan seorang teknisi tempur di Divisi Tank Pengawal ke-4 (Kantemirovskaya), tidak mengetahui akan dikerahkan dalam invasi.

“Dia tidak tahu bahwa mereka akan dibawa ke sana. Mereka baru tahu saat tiba.”

Terakhir kali Natalia berbicara dengan Rafik adalah pada 23 Februari, ketika putranya itu mengatakan divisinya sudah berada di dekat perbatasan Ukraina.

“Saya bertanya mengapa dia sebelumnya tidak bilang bahwa mereka dipindahkan ke sana. Dia hanya menjawab ‘Agar Ibu tidak khawatir’. Dia juga mengatakan bahwa semuanya berjalan tenang.”

Ketika foto-foto para tahanan mulai beredar, saluran TV Russia-24 menyebutnya sebagai “berita palsu”.

Padahal foto-foto itu benar adanya.

Penghasilan stabil

Natalia mengatakan telah menghubungi beberapa organisasi, termasuk Komite Ibu Prajurit, sebuah LSM Rusia.

“Mereka sudah mengambil datanya, tapi sejauh ini belum ada informasi,” katanya.

“Saya tidak tahu harus berbuat apa. Media hanya diam tentang fakta bahwa orang-orang kita ditangkap. Atau mereka tidak tahu.”

Natalia mengatakan bahwa Rafik bergabung dengan angkatan bersenjata pada Juni 2021 sebagai wajib militer, yang menurut undang-undang tidak sampai membuatnya dikerahkan dalam operasi tempur.

Tapi BBC Rusia diberitahu oleh kekasih Rafik, Liliya, bahwa ia sudah menjadi tentara kontrak Desember lalu untuk “menghidupi masa depan keluarganya”.

Meskipun Liliya sudah berupaya mencegahnya.

Natalia mengungkapkan bahwa putranya pernah belajar di sekolah teknik pertanian tetapi keluar untuk bergabung dengan tentara.

Rafik melihat jadi tentara mendatangkan prospek keamanan finansial.

“Jadi anggota militer diberikan rumah, dan bisa mendapat gaji normal di sana. Apalagi sekarang tidak ada pekerjaan di negara ini,” kata Natalia.

“Putra saya tidak terlalu tertarik dengan karir militer. Dia lebih melihatnya sebagai kesempatan untuk bangkit jadi mandiri, untuk memiliki semacam pendapatan yang stabil.”

Rafik salah satu dari tiga anak Natalia.

Pasangan Natalia saat ini pun memiliki tiga anak.

‘Anak saya ke sana bukan atas kehendaknya sendiri’

Ketika ditanya apa yang dia rasakan tentang invasi Rusia ke Ukraina, Natalia mengaku tidak mengikuti politik atau menonton berita.

“Sejujurnya saya tidak mengerti untuk apa semua ini,” katanya.

“Di negara kami, sebagian orang tidak punya apa-apa untuk dimakan. Saya tidak mengerti perang atau aksi militer apa pun.”

Dapat dimengerti bahwa dia tertekan dengan membaca komentar media sosial tentang penempatan putranya ke konflik itu, terutama yang bernada ancaman terhadap Rafik dan tentara Rusia lainnya yang mungkin telah ditahan di Ukraina.

“Anak saya ke sana bukan atas kehendaknya sendiri, panglimanya yang mengirim dia ke sana,” katanya.

“Untuk apa? Saya tidak bisa menjawabnya. Kami – baik saya maupun anak saya – tidak membutuhkannya.”

“Kepada siapa saya harus memohon untuk mendapatkan anak saya kembali?” tanya Natalia.

Jumlah Korban

Menurut militer Ukraina, meskipun konflik militer antara Rusia dan Ukraina baru dimulai beberapa hari yang lalu, Rusia telah mengalami kerugian besar.

Newsweek telah melaporkan kerugian nyata yang dihadapi Rusia sejak menginvasi negara itu pada hari Kamis. Lebih dari 3.500 tentara Rusia telah tewas sejak invasi dimulai dan pasukan Putin terus mendorong menuju ibukota Ukraina, Kyiv.

Selain ribuan korban tewas, hampir 200 anggota militer Rusia juga telah ditangkap, kata Angkatan Bersenjata Ukraina, Sabtu.

Rusia juga kehilangan 14 pesawat, delapan helikopter, 102 tank, 536 kendaraan bersenjata, 15 senapan mesin berat dan satu rudal BUK sejak invasi dimulai, kata militer Ukraina.

Sebagai perbandingan, kurang dari 2.500 tentara AS tewas di Afghanistan, perang yang berlangsung selama dua dekade.

Sumber: Newsweek/BBC/Tribun Medan