Guru Spiritual Kelompok Ritual di Jember Ternyata MC Dangdut, Kades Heran Kondisi Tempat Tinggalnya

Kades ungkap profesi guru spiritual kelompok ritual berujung maut di pantai Payangan, MC dandut juga berjualan online, begini kondisi rumahnya.

Diberitakan sebelumnya, ritual kelompok Tunggal Jati Nusantara berujung maut, Minggu (13/2/2022).

Sebanyak 11 orang meninggal dunia karena terseret ombak saat melakukan ritual di Pantai Payangan, Jember.

Ritual ini dimulai pada Sabtu malam (12/2/2022), diikuti 23 orang yang hendak bermeditasi, namun berujung nahas.

Pimpinan kelompok yang bernama Hasan, diketahui selamat dalam ritual maut itu.

Pencarian korban terseret ombak Pantai Payangan Jember, Minggu (13/2/2022).
Pencarian korban terseret ombak Pantai Payangan Jember, Minggu (13/2/2022). (TRIBUNJATIM.COM/SRI WAHYUNIK)

 

 

Dilansir TribunJatim.com dari Kompas.com, Senin (14/2/2022), kelompok Tunggal Jati Nusantara berada di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Jember.

Kades Dukuh Mencek Nanda Setiawan mengemukakan, Hasan bukanlah kiai atau ustaz.

Hasan yang merupakan pendiri kelompok itu diketahui pernah merantau ke Malaysia dan kembali ke kampungnya pada 2014.

“Cukup lama dia di Malaysia, sekitar 2014 datang,” katanya.

Menurutnya Hasan memiliki beberapa pekerjaan.

Seperti menjadi MC hingga berjualan online.

“Kerjanya kadang-kadang MC dangdut, sementara ini jual online kayak tisu,” tutur dia.

Hasan diketahui membentuk sebuah kelompok yang selalu menggelar kegiatan di rumahnya.

Pada bagian rumahnya, kata Nanda, terdapat tulisan seperti kaligrafi berbunyi Tunggal Sejati Nusantara.

“Rumah yang dipakai ruang tamu biasa, tidak ada padepokan atau aulanya,” kata dia.

Hasan kerap menggelar berbagai kegiatan di ruang tamunya tersebut sejak dua tahun lalu.

Mulanya pihak pengurus desa tidak menaruh curiga karena kegiatan yang digelar dua bulan sekali itu dirasa postif.

Malam ritual maut di Pantai Jember yang memakan korban jiwa
Malam ritual maut di Pantai Jember yang memakan korban jiwa (Tribun Jatim)

Misalnya membaca Alquran, dzikir dan selawat.

“Awalnya seperti itu, tapi kok lama-lama ada seperti ini, itu saya kurang tahu,” tambah dia.

Nanda menjelaskan, dari hasil penelusurannya, ritual tersebut bukan ritual pertama.

Kelompok Hasan kerap menggelar ritual di pantai.

“Namun orangnya (dulu) tidak sebanyak sekarang,” katanya.

Nanda mengaku, anggota kelompok tunggal jati nusantara itu ada yang datang pada Hasan untuk berobat, punya masalah ekonomi, maupun masalah keluarga.

“Kayaknya orang yang datang ke sana itu yang susah, mungkin sakit atau kesulitan ekonomi dan masalah keluarga,” papar dia.

Dia menilai warga yang datang untuk ikut kegiatan itu berasal dari luar desa.

Kemungkinan karena diajak untuk melakukan ritual guna menyelesaikan masalah yang dialami oleh anggotanya.

Di sisi lain, ibu satu di antara korban ritual maut itu tak kuasa menahan kesedihannya.

Sofiana Nazila (22) korban meninggal dunia dalam ritual maut Pantai Payangan ternyata sudah empat tahun ikut Kelompok Tunggal Jati Nusantara.

Kepada sang ibu, Sofi ikut kelompok itu untuk mencari ketenangan hati.

“Katanya mau mencari ketenangan hati, mau berubah,” ujar Dewi Soleha (48), ibunda Sofiana Nazila kepada TribunJatim.com.

Sofi merupakan warga Jalan Bungur Kelurahan Jember Lor Kecamatan Patrang.

Dewi menuturkan, anaknya sempat menjadi remaja yang nakal. Dia mengkonsumsi minuman keras, seperti arak.

“Terus orangnya juga keras, tidak nurut sama saya. Dari situ, dia ingin berubah, terus diajak temannya untuk ikut kelompok itu supaya bisa berubah,” kata Dewi.

Ketika ikut kelompok itu, kata Dewi, anaknya memang berangsur berubah.

“Memang tidak langsung berubah, setahun pertama belum. Namun setelahnya berubah, nurut sama saya. Terus dia bilang mendapat ketenangan hati,” lanjutnya.

Karenanya, Dewi tidak melarang Sofi ikut kelompok tersebut. Bahkan setelah empat tahun berjalan, Sofi dinyatakan lulus.

Ketika ditanya apa saja yang dibaca dalam kajian kelompok, Dewi menyebut, bacaan di antaranya, selawat nabi.

“Tidak ada yang aneh, baca selawatan. Ya tetap salat seperti biasa,” pungkasnya.

(Tribunjatim.com / Ani Susanti)