Sharing Pengalaman Membeli Rumah Hasil dari Lelang Bank Harga Murah

Ini salah satu pengalaman saya membeli lelang rumah yang masih membekas sampai sekarang.

Sekitar tahun 2012 saya membeli rumah yang dilelang oleh bank. Rumahnya nggak jauh dari rumah saya di Rawamangun, Jakarta Timur. Rumahnya lumayan luas sekitar 650m2. Yang agak khusus dari rumah ini masih terdapat barang2 lengkap didalamnya. Karena yang dilelang hanya rumah, barang2 yang ada di dalamnya bukanlah hak saya. Sehingga saya berusaha mencari pemilik atau kerabat pemilik rumah sebelumnya. Dari pencarian ini akhirnya saya mengetahui cerita lengkap mengapa rumah ini sampai dilelang.

Foto ruang tamu

Foto ruang keluarga

Foto ruang keluarga

Sebut saja namanya Pak A pemilik rumah sebelumnya. Pekerjaan terakhir pejabat tinggi dilingkungan pemprov DKI dengan mempunyai beberapa aset rumah/tanah, mobil 4 dan anak2 yang sudah kuliah. Tetangga2 juga sangat hormat karena keluarga beliau sering membantu penduduk sekitar yang kesulitan.

Bisa dikatakan dia adalah keluarga berhasil yang tinggal menjalani masa pensiun. Mungkin karena ingin mencoba keberuntungan di Pilkada di daerah asalnya di Garut, Pak A mendaftarkan diri menjadi calon bupati Garut.

Pak A mendapatkan dukungan dari banyak partai besar, yang tentunya dukungan ini nggak gratis. Beberapa aset diagunkan, dan juga berhutang ke bbrp tempat di Garut. Untuk rumah yang dia tinggali (aset yang saya beli), dibalik nama ke Pak B dengan maksud akan diagunkan oleh Pak B. Oleh Pak B rumah tersebut diagunkan ke bank dan uang dari hasil dari agunan tersebut 20% diberikan ke Pak A, sayangnya sisa uang 80% dibawa kabur oleh Pak B.

Nasib kurang baik juga terjadi pada hasil Pilkada. Calon bupati independen yang menggaet pemain sinetron mengalahkan calon2 lain yang didukung oleh partai.

Mobil yang awalnya 4, satu persatu habis untuk membayar sebagian hutang. Mungkin karena tekanan, salah satu anak perempuannya hilang ingatan dan bahkan sampai lari tanpa busana keliling rumah. Puncaknya ketika beberapa orang pemberi hutang dari garut membawa massa ke rumah Pak A, sehingga Pak A harus meninggalkan rumah tanpa membawa barang2nya.

Akhirnya saya bisa bertemu dengan Pak A. Saat itu dia tinggal dalam ruangan sewa yang ukurannya 2x3m bersama dengan istri dan anaknya yang hilang ingatan. Anda bisa bayangkan sebelumnya mereka memiliki rumah dengan luas tanah 650m2 kemudian tinggal dengan hanya luas 6m2 dan sewa 🙁 Beberapa kali dia mengatakan menyesal mengikuti pilkada. Dalam hati saya berguman, ahh jika Pak A nggak tergoda untuk ikut pilkada mungkin saat ini dia sedang menikmati masa pensiun dengan anak istrinya.