Kades: Warga Desa Miliarder Tuban Tak Miskin, Justru Tambah Kaya

Kepala Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Gianto membantah warganya jatuh miskin setelah setahun lalu menjadi miliarder dadakan setelah menerima uang penggusuran.

Gianto mengatakan kehidupan warga Sumurgeneng tidak berubah setelah menjadi miliarder. Beberapa ada yang memilih membeli tanah di luar desa. Kehidupan warga pun kondusif.

“Warga saya kelihatannya masih kondusif dan baik-baik saja. Kalau mau lebih tahu datang saja ke Sumurgeneng untuk lihat kondisi rumah dan mungkin ada peningkatan dari yang kemarin,” ujar Gianto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/1).

Gianto menyatakan usai menjadi miliarder sampai saat ini kehidupan warga justru berubah drastis. Ia membantah warga malah melarat setelah menjadi miliarder dadakan.

“Justru menjadi kaya, karena tanahnya di luar desa itu lebih luas. Waktu itu tanahnya misal 1 hektare yang dijual, yang pertama dibelikan tanah di desa lain 2 hektare, masih sisa uang,” ujar Gianto.

“Itu kan dibelikan tanah, berarti kan kalau 2 hektare baru (habis) Rp4 miliar, sisanya buat beli rumah, bayar utang, atau beli mobil,” katanya menambahkan.
Lihat Juga :
[img-title]
Panglima Ubah Nama Pasukan Elite TNI AU dari Korpaskhas Jadi Kopasgat

Ia juga membantah banyak warga di Sumurgeneng menjadi pengangguran usai menjual tanahnya ke PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) kilang Grass Root Refinery (GRR).

Menurutnya, pemberitaan terkait hal itu kurang pas dengan kondisi aktual di daerahnya. Saat ini, kata Gianto, proses penyerapan warga untuk bekerja di Pertamina masih terus berlangsung.

Sampai saat ini setidaknya 67 warga Desa Sumurgeneng yang sudah diterima bekerja di Pertamina Rosneft. Menurutnya, penyerapan tenaga kerja itu juga menyesuaikan porsi dan kebutuhan perusahaan.

“Wajar kalau ada yang belum masuk ini minta kerjaan. Karena orang ya harus bekerja, kita kan kalau bisa jangan nganggur,” katanya.


Sementara terkait dengan aksi demo paguyuban, ada salah paham antara warga dengan Pertamina Rosneft. Menurutnya, informasi lowongan kerja di Pertamina Rosneft itu sempat menyebar luas ke masyarakat umum.

Padahal, lowongan itu sejatinya ditujukan kepada warga enam desa di Tuban yang terdampak langsung proyek pembangunan proyek kilang minyak di Tuban. Enam desa yang terdampak itu di antaranya Desa Wadung, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Beji, dan Kaliuntu.

“Itu karena kurang koordinasi, jadi disampaikan, di-share untuk umum. Bahkan ada yang lamar dari luar desa ya. Jadi khawatirnya nanti enam desa ini diisi dari luar ring, sementara di ring kan masih butuh pekerjaan. Intinya minta prioritas,” ungkapnya.

Sebelumnya, kisah bahagia warga Wadung, Jenu, Tuban yang menjadi miliarder dadakan usai ramai-ramai menjual tanahnya untuk pembangunan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) kilang Grass Root Refinery (GRR) ternyata tak berlangsung lama.

Setelah hampir 2 tahun berlalu, keadaan warga di kampung miliarder itu kini berbanding terbalik.

Para warga mengaku resah karena lahan ladang dan sawah yang selama ini menghidupi mereka kini sudah tak ada lagi. Sementara mereka pun sudah berganti profesi. Namun pekerjaan baru yang mereka geluti tak mudah hingga tak sedikit warga menganggur.